Jadikan Media Sosial Sebagai Media Pendidikan

NU Online didirikan 2003 di saat web salafi itu sudah ada. NU Online hitungannya agak telat memulainya. Dan butuh 7 tahun untuk memiliki pembaca. Karena memang saat itu tidak semua bisa akses internet sebaik sekarang. Dan di tahun 2010 NU Online baru mendapatkan pembaca dari kalangan Nahdiyin.

Dalam menjalankan media online NU ini banyak sekali hambatanya seperti komentar-komentar nyinyir dari kalangan salafi. Jarang sekali ada yang suportif. Sedangkan orang NU jarang sekali ada yang mau komen karena mereka sulit untuk mengakses internet. Tidak heran dari tahun 2000-2013 media online didominasi oleh media-media dari kalangan salafi, mereka konsisten, penyebarannya masih dari pengikutnya, dan terus mengupdate websitenya.

Tahun 2010 dan seterusnya, sering adanya HP murah, pembaca NU Online mulai banyak. Kami juga menyeimbangkan beritanya dengan apa yang dicari oleh para pembaca di media, seperti doa qunut atau doa shalat hajat, dll. Meskipun warga NU sudah tahu doa tersebut tetapi ternyata menurut google pencarian, tema-tema tersebut banyak dicari.

Yang menjadi masalah saat ini, banyak pesantren yang tidak menjadikan media sosial sebagai media pendidikan atau kebudayaan. Meskipun banyak pesantren memiliki website tetapi tidak digunakan untuk media penyebaran dakwah. Mungkin karena pesantren memiliki santri yang banyak jadi tidak kepikiran mengurusi online. Berbeda dengan kaum salafi, mereka tidak terlalu banyak memiliki santri, jadi memaksimalkan menggunakan media online.

Era pandemik ini membuat perubahan yang luar biasa, pesantren dituntut untuk menggunakan media online dalam belajar daring. Dan ini bagian positifnya. Bagi saya, berdakwah melalui media online ini sangat penting, karena banyak sekali masyarakat yang berlomba-lomba belajar di media online. Ini ruang yang harus direbut oleh kiai/nyai pesantren. Gus Baha sudah konsisten melakukan ini, begitu juga dengan kiai/nyai lainnya. semoga terus bermunculan.

(Savic Ali)

About admin psp

Check Also

Suka Duka Berdakwah di Media Sosial

Pengalaman saya dan Mas Ulil merintis Ngaji Ihya secara online dimulai pada bulan Ramadhan tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *