Suka Duka Berdakwah di Media Sosial

Pengalaman saya dan Mas Ulil merintis Ngaji Ihya secara online dimulai pada bulan Ramadhan tahun 2017. Pada awal-awal dulu modal saya cuma handphone dan tripot kecil. Pokoknya sama sekali tidak memadai. Selain itu tugas saya membacakan komentar-komentar orang yang menyimak pengajian.

Pada awal-awal saat itu yang ikut ngaji online kebanyakan para santri alumni pesantren. Mereka terkadang saling tik-tok balas guyonan ala santri di kolom komentar. Sehingga tidak jarang ada orang lain dari selain kalangan santri yang tidak paham guyonan tersebut.

Selain cerita lucu-lucu itu, yang juga membuat saya senang adalah orang yang menyimak pengajian Ihya ada dari kalangan nonmuslim. Hal ini karena saat itu Mas Ulil memulai membaca Ihya Ulumuddin dari jilid 3 tentang bab mengelola hati.

Halaqah Virtual Ulama Perempuan I

Image 1 of 1

Sebenarnya banyak kalangan perempuan yang layak maju di depan layar untuk membuka kajian atau dakwah di media sosial. Hal ini karena banyak netizen sekarang sangat haus ilmu terutama agama.

Meski kelompok sebelah sudah lebih dahulu masif dengan media digital dengan dukungan dana yang tidak sedikit, namun kalangan NU sekarang mulai bisa mengimbangi dominasi kelompok-kelompok garis keras tersebut.

Di antara hal yang menghambat untuk masif dakwah di media sosial yakni kekhawatiran kalangan NU karena takut di-bully. Sebagaimana kisah Gus Ulil yang dulu sering kena bully sebab ia dahulu pernah bergabung di JIL.

Soal bully,  itu adalah konsekuensi tampil di media sosial. Makanya, jangan sampai kita baper (membawa perasaan) karena membaca komentar-komentar netizen.

Adapun persoalan tidak percaya diri, kepada para bu nyai dan neng, mari pede, anda lebih banyak bahan keilmuan. Jadi pesan saya, jangan malu, jangan ragu, kita harus percaya (pede), media sosial membutuhkan anda semua.

Selain itu, banyak hikmah di balik musibah corona ini, sehingga banyak pengajian secara online yang dibuka oleh kalangan pesantren. Padahal sudah sejak lama saya mengompori untuk ngaji online. Pandemi corona jadi memaksa kita untuk melakukan itu.

Awalnya jangan berkecil hati jika viewer-nya baru sedikit. Kita berusaha supaya media sosial kita tidak dipenuhi dengan pemahaman-pemahaman yang tidak rahmatan lil alamin.

Setiap platform media sosial, memiliki karakteristik masing-masing. Facebook banyak didominasi orang-orang tua. Untuk instagram, kurang cocok untuk ngaji seperti Mas Ulil, karena instagram lebih menyukai video ngaji pendek.

Paling enak yaitu pakai Youtube, karena ketika streaming di Youtube dokumentasinya bisa langsung tersimpan, selain itu kita juga bisa memilih kualitas video yang diinginkan.

Pesantren punya potensi yang belum semuanya keluar. Kini penulis-penulis produk pesantren belakangan mulai muncul. Para santri punya bekal untuk bersaing di media online. Soal teknologi bisa sambil belajar. Jadi, jangan malu berbagi tulisan atau video.

(Nyai Ienas Tsuroiya)

About admin psp

Check Also

Nyai Durratun Nafisah: Memupuk Silaturrahmi dengan Tetangga Non Muslim

  Pada masa pandemi bulan Ramadhan tahun ini, banyak pesantren Pesantren Kauman Karangturi Lasem Rembang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *