Nyai Durratun Nafisah: Memupuk Silaturrahmi dengan Tetangga Non Muslim

 

Pada masa pandemi bulan Ramadhan tahun ini, banyak pesantren Pesantren Kauman Karangturi Lasem Rembang melakukan pengajian dan dakwah secara online. Respon masyarakat sangat bagus untuk menyimak secara online, meski masih ada sedikit pesantren masih saja mengadakan pengajian yang menghadirkan massa.

Pengajian kitab ini kemudian disiarkan ulang di saluran TV9 tentang berfokus pada masalah haid dan nifas setiap hari pada jam 3 sampe 4 sore. Saya sendiri membuka pengajian kitab Tafsir Al-Ibris yang dipadukan dengan Tafsir Iklil dan Ibnu Katsir secara daring (online) selama Ramadhan kemarin.

Respon yang ngaji online mengatakan bagus. Yang menyimak ngaji kebanyakan bapak-bapak dan beberapa kalangan kiai. Begitu ada kajian kitab yang sifatnya rutin, kontinue dari halaman ke halaman, dari ayat ke ayat, respon mereka bagus. Sehingga diminta untuk dilanjutkan kembali setelah Ramadhan.

Menurut saya mengajar hakikatnya adalah proses belajar, karena biasanya yang dihadapi selama adalah anak-anak santri. Tapi sekarang yang dihadapi lebih banyak dan luas lagi sehingga persiapannya harus benar-benar matang.

Perihal budaya menulis, seringkali berkaitan dengan bakat dan kemauan. Saya sendiri kurang mahir di bidang menulis, namun untuk ceramah insyaallah akan terus saya kembangkan.

Dakwah persuasif yang kami lakukan yang terinspirasi dari para kiai Lasem yang melanjutkan dakwah wali songo yang damai. Dengan dakwah ini, warga non muslim di sekitar pesantren Lasem ada 26 orang yang memeluk agama Islam.

Salah satu metode membangun relasi antara pihak pesantren dengan masyarakat sekitar yang nonmuslim (China), yakni para santri diminta untuk selalu takziyah apabila ada tetangga yang meninggal.

Saking akrabnya keluarga dan santri pesantren dengan warga sekitar yang plural, suatu ketika para santri diminta tahlilan jenazah orang China yang meninggal dunia. Lantaran tidak mungkin untuk menolak begitu saja permintaaan mereka, maka oleh pengasuh pesantren meminta beberapa santri datang ke kediaman rumah orang China tersebut. Di sana para santri tahlilan, hanya saja tidak mendoakan jenazah China tadi, namun para santri diarahkan untuk mendoakan keluarga masing-masing yang sudah meninggal.

Marilah kita kembali dakwah-dakwah yang indah seperti pada zaman wali songo yang damai tanpa kekerasan.

(Nyai Durratun Nafisah)

About admin psp

Check Also

Suka Duka Berdakwah di Media Sosial

Pengalaman saya dan Mas Ulil merintis Ngaji Ihya secara online dimulai pada bulan Ramadhan tahun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *