Menulis adalah Keberpihakan Kepada Kaum Marjinal

Menulis adalah keberpihakan pada kaum mar­jinal. Menulis adalah menemukan kreatifitas dari pengalaman pribadi dan bukan untuk gaya-gayaan. Menulis seperti sebuak kekuatan yang merasuk dalam diri dan mendorong untuk diketahui oleh publik. Ada sosok dan potret situasi yang perlu diketahui publik dari kaum marjinal, sehingga menulis dapat menjadi kekuatan perubahan dan penegakan keadilan sosial menuju masyarakat yang lebih baik. Demikian hal penting yang disampaikan Shoffa Ikhsan, penulis buku “In the Name of Sex” dalam workshop dan pelatihan menulis bagi santri Pusat Studi Pesantren regional Jawa Timur di Surabaya, 9 April 2017.

“Saya menulis buku bukan duduk manis di meja, tapi dengan jalan ke sana kemari. Bukan hanya membaca kitab, tapi melakukan perjalanan dan riset langsung ke jawa dan luar jawa tanpa funding. Saya mengikuti tubuh saya ke mana saya harus pergi. Jiwa kita dilindungi oleh tubuh. Saya mencoba waktu itu meliarkan tubuh. Saya menco­ba menulis dengan pengorbanan tubuh dan roha­ni,” jelas Shoffa Ikhsan ketika menjelaskan proses kreatif penyusunan buku In the Name of Sex.

Pengaruh filosof prancis Foucoult, bagi Soffa adalah pengorbanan tubuh. Bersimbiosis dengan kegalauannya dengan dogma-dogma waktu kecil. Shoffa waktu remaja menuliskan dengan bahasa yang perih, pemberontakan dan dalam kondisi kekurangan.

Mungkin orang menyebutknya proses kreatif, atau proses agar membuat bahasa Indonesia kita menjadi lancar. Ketika saya menulis itu, saya men­galami ekstasi. Untuk menajamkan rohani, saya meliarkan tubuh.

Ini membuka syaraf bahasa di dalam otak kita. Meningkatkan syaraf-syaraf otak bahasa saya sehingga melahirkan buku: In The Name of Sex.

Menulis itu menurut sebagian orang juga me­rupakan pengolahan rohani dan tubuh. Bagaimana kita melihat sesuatu realitas melalui perspektif ruhani. Menapaki kekiaian saya melalui dunia evil. Membuat salto kehidupan. Untuk mencapai kearifan. Jangan takut pada sesuatu yang liar. saya mengajak bukan secara harfiah, tetapi secara non harfiah untuk menjajaki dunia yang termasuk mar­jinal. Sesuatu yang marjinal jangan terlalu dijauhi.

“Kita bisa belajar ke pengemis, berandalan, orang pinggiran, yang selama ini terpinggirkan dan kurang ada yang mengurus. Kita mencoba membuka hati kita dan berpihak. Menulis adalah keberpihakan. Keberpihakan yang memihak dan itu adalah keberpihakan pada kaum marginal,” jelasnya.

Kekayaan di pesantren nahdlatul ulama ini banyak yang belum terungkap. Tradisi pesantren seperti Maknani Kitab, Pidato, diskusi, muha­dloroh, Roan, Takzir, wara, santri bertanya kiai menjawab, karya tulis jurnalistik, musyawaroh, bahtsul masail sughro dan kubro, penulisan asilah tanya jawab dijadikan buku, wadzifah wirid, tradisi I’rob dan sebagainya. Merupakan kekayaan tradisi pesantren yang masih perlu dituliskan oleh para santri menjadi kisah yang menarik.

“Budaya lisan di pesantren banyak dan ada titik tertentu untuk amaliyah dalam menulis. Jadi tra­disi lisan itu bisa ditulis dengan sedikit perubahan struktur. Tradisi repetisi itu justru lebih meru­pakan fungsi belajar yang baik. Karena siswa dan santri lebih detail dan lebih mendalam dalam hal tersebut. Bagaimanapun tradisi pesantren ini turost yang membentuk tsaqofah. Turost di pesantren ini merupakan embrio untuk mewujudkan budaya menulis.” Katanya.

About admin psp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *