Kerahmatan Islam Mengangkat Harkat Martabat Manusia

Cara berfikir manusia yang keras, penuh hawa nafsu, akhlak yang buruk dan negatif bisa menindas harga diri manusia. Pola pikir yang ekstrim, fundamentalis, dan radikalis ini membawa pada terorisme dan kerusakan. Hawa Nafsu dan rasa tega terha­dap nilai kemanusiaan akan membawa pada kehancuran harkat dan martabat manusia. Hawa nafsu dan melampaui batas dalam amar makruf dan nahi mungkar mengakibatkan kehancuran bagi umat–umat terdahulu. Saat ini, bahaya yang dihadapi bangsa-bangsa adalah fundamentalisme, radikalisme dan terorisme. Di sinilah keindahan Islam rahmatan Lil Alamin, bagaimana islam membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.

“Cara berfikir manusia yang perlu diubah adalah cara berfikir merasa berbuat baik dengan melakukan kerusakan. Wawasan Islam Rahmatan lil Alamin yang diangkat PSP ini bagus untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, agar tidak terpero­sok dalam kerusakan harga diri manusia,” demikian disampaikan KH Dian Nafi, pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Windan Sukoharjo dalam Workshop dan pelatihan menulis untuk santri Pusat Studi Pesantren (PSP) regional Jawa Timur di Surabaya, 11 April 2017.

Menurutnya, kemunduran bangsa-bangsa dikarenakan maraknya.

kekerasan, etos kerja menurun, kurangnya pedoman moral, perilaku merusak diri, kurangnya rasa hormat, kurangnya tanggung jawab sebagai warga negara, pikiran negatif, keti­dakjujuran, kedengkian. Ini semua mengakibatkan rusaknya kemakmuran dan kerukunan, yang hasilnya akan menjadi konflik dan kekerasan berkepanjangan, negeri ditinggalkan, rakyat tidak dihormati di mana-mana.

 

“Bangsa Indonesia bisa merdeka karena bisa mengelola kemajemukan, dan mengelola keberbedaan. Kemajemukan mempunyai peluang untuk didewasakan untuk kemajuan bangsa. Karena, lokus Kerahmatan Islam adalah kerukunan, keluhuran, keadilan dan kebenaran,” jelas KH Dian Nafi.

Rute untuk membangun peradaban, dari ajaran ke ruang publik. Pertama adalah ukhuwah sebangsa, baru menga­jak kepada Ketuhanan yang Maha Esa, mengenalkan apa isi bumi, apa yang ditumbuhkan bumi dan terkandung di dalamnya dan melestarikan isi bumi, dan mohon ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah atas kemakmuran yang sudah diberikan. Menurutnya ini merupakan inti kemakmuran kehidupan menurut QS Hud 11: 81.

Seperti juga dapat dibaca dalam ayat Allah dalam Al Quran: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicu­rahkan) atas semesta alam (QS. Al Baqarah: 251).

Allah juga menolak keganasan manusia lain dengan manusia lainnya. Karena jika ada kekerasan dan penghancuran ma­nusia dengan manusia yang lainnya maka bumi akan rusak. Beliau mencontohkan, konstitusionalisme pada zaman Nabi Muhammad, dimulai dari Hilful fudhul, Baiat aqobah I dan II, mitsaq Madinah, dan kemudian Shulh (perjanjian) Hudai­biyah. Proses ini menunjukkan bagaimana Rasulullah pada zamannya selalu mengedepankan perjanjian dan kesepaka­tan antara suku dan dan bangsa.

“Kerahmatan Islam bukan hanya buat individu, karena tahap evolusi menjadi negara adalah dari individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Ketika etika kerahmatan bagi seluruh alam disepakati bersama antara seluruh warga negara, maka itu menjadi etika kebangsaan dan kenegara­an,” paparnya.

About Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *