Jihad Intelektual Santri NTB Menebarkan Rahmat kepada Umat Manusia

Menjadi muslim tidak serta merta akan menjadi penebar rahmat. Diperlukan upaya sungguh-sungguh (jihad) secara intelektual, moral, dan material untuk memancarkan nilai-nilai kerahmatan itu. Secara intelektual, kita mesti terus menebar pandangan-pandangan positif dan progresif untuk membendung arus fanatisme, tindak dan wacana kekerasan juga terorisme, demikian pula ketidakadilan.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia dikenal dan diharapkan menjadi kiblat peradaban Islam moderat, Islam yang menebarkan rahmat untuk semua (rahmatan lil-‘alamin) itu dan bisa berdialog secara sehat dengan berbagai kekuatan dunia. Islam yang menegakkan tatanan sosial yang damai, ramah, toleran, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Harapan itu salah satunya karena peran pesantren. Pesantren telah memainkan peran penting sebagai katalis Islamisasi Nusantara sepanjang abad ke-13 dan 17. Watak pesantren yang moderat, lentur, dan adaptif terhadap budaya lokal menjelaskan kesuksesan Islamisasi Nusantara yang menakjubkan, berlangsung begitu cepat, dan hampir tanpa cap darah. Selain sebagai katalis Islamisasi, pesantren juga merupakan pusat pendidikan yang menyiapkan kader-kader mumpuni, yang kelak akan mewarnai dialektika perjuangan dan pergerakan nasional. Bahkan, kiprah santri saat ini di berbagai kancah social, ekonomi, dan politik makin meluas.

Atas dasar pemikiran tersebut, Pusat Studi Pesantren sebagai lembaga yang menjembatani antara dunia pesantren dan dunia di luarnya menyelenggarakan workshop dan pelatihan pembuatan video bagi para santri yang nantinya akan menjadi Pengibar Bendera Kerahmatan bagi seluruh alam. Kegiatan workshop yang ke 20 kalinya selama 2 tahun terakhir ini, PSP melaksanakan kembali di Nusa tenggara Barat (NTB) tepatnya di Lombok Tengah pada 8 – 12 Mei 2018.

Dalam kegiatan ini, PSP mengundang 10 Pesantren terpilih untuk mengutus 2 santri pilihan mengikuti workshop video making. Selama 5 hari, 20 santri dibagi dalam 4 kelompok dan memperkaya diri dalam wacana keislaman yang moderat, serta mempercanggih kemampuan dalam video making dan media sosial. Dari 4 kelompok tersebut, santri membuat video film pendek yang dapat dilihat di channel youtube suarapesantren.net.

Rata-rata peserta ini masih baru dalam mengelola audio video, namun dengan pendampingan panitia dan fasilitator dari Pusat Studi Pesantren dan para pembicara yang dihadirkan, 100 persen mereka telah melampaui proses pembuatan video making dan telah selesai dan berhasil membuat video making dalam bentuk film pendek.

Semoga workshop video making ini bermanfaat, dan dapat dilaksanakan kembali oleh PSP di beberapa daerah lainnya.

About Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *